//
you're reading...
Senapan Angin

HUKUM BERBURU MENGUNAKAN SENAPAN

484853_349206071857804_335982607_n
Apa hukumnya berburu dengan menggunakan senapan angin? Apakah benar ada perbedaan antara menggunakan peluru tumpul dan peluru tajam? Dan bagaimana hukum memperjual-belikan peluru, baik yang tumpul maupun yang tajam?
Jawab:Cara kematian hewan yang menjadi syarat kehalalannya dibedakan antara yang jinak dan yang liar. Untuk hewan jinak, kematiannya harus dengan disembelih secara syar’i, sedangkan untuk hewan liar, kematiannya boleh dengan dua cara: pertama, dengan melepaskan anjing pemburu yang sudah terlatih; kedua, dengan lemparan.

Melihat bahwa perburuan menggunakan senapan tergolong mematikan hewan dengan lemparan atau lontaran, maka jawaban dari pertanyaan di atas lebih spesifik pada sifat lemparan. Sebelumnya, berikut ini nash yang menunjukkan kehalalan hewan yang mati karena lemparan.

عن عباية بن رفاعة بن رافع عن جده رافع بن خديج قال كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم بذي الحليفة فأصاب الناس جوع فأصبنا إبلا وغنما وكان النبي صلى الله عليه وسلم في أخريات الناس فعجلوا فنصبوا القدور فدفع إليهم النبي صلى الله عليه وسلم فأمر بالقدور فأكفئت ثم قسم فعدل عشرة من الغنم ببعير فند منها بعير وكان في القوم خيل يسيرة فطلبوه فأعياهم فأهوى إليه رجل بسهم فحبسه الله فقال النبي صلى الله عليه وسلم إن لهذه البهائم أوابد كأوابد الوحش فما ند عليكم منها فاصنعوا به هكذا قال وقال جدي إنا لنرجو أو نخاف أن نلقى العدو غدا وليس معنا مدى أفنذبح بالقصب فقال ما أنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكل ليس السن والظفر وسأخبركم عنه أما السن فعظم وأما الظفر فمدى الحبشة . رواه البخاري

Dari ‘Abayah bin Rifa’ah dari Kakeknya Rafi’ bin Khadij berkata: Kami bersama Nabi saw di Dzul Hulaifah, saat ini sebagian orang mengalami kelaparan, lalu mereka mengambil (dari harta rampasan perang) onta dan kambing, sementara Nabi saw ketika itu berada di rombongan belakang. Merekapun kemudian bersegara (tanpa menunggu pembagian harta rampasan perang) dan memasaknya dengan kuali. Kemudian didatangkan Nabi saw kepada mereka, lalu beliau memerintahkan untuk mengeluarkan isi kuali tersebut (untuk dibagi). Kemudian Beliau membagi di mana bagian setiap sepuluh ekor kambing disetarakan dengan satu ekor onta. Tetapi kemudian ada seekor onta yang lari, di antara orang-orang ada yang memiliki kuda yang lincah larinya, lalu merekapun mencarinya sampai kelelahan. Lalu ada seorang laki-laki (dari mereka) melempar panah hingga Allah mentakdirkannya dapat membunuh onta tersebut. Baginda saw kemudian bersabda: “Sesungguhnya hewan seperti ini hukumnya sama dengan hewan liar (hewan buruan). Maka apa saja yang terlepas dari kamu (tidak bisa ditangkap), lakukanlah seperti ini.” Demikianlah sabda beliau, kakekku berkata: Sesungguhnya kami berharap atau bimbang bertemu musuh pada esok hari sedangkan kita tidak memiliki pisau, bolehkah kami menyembelih dengan kayu?, Beliau bersabda, “Setiap apa yang ditumpahkan darahnya dengan disebut nama Allah maka makanlah kecuali yang ditumpahkan darahnya dengan gigi dan kuku, dan akan kusampaikan tentang itu. Adapun gigi, ia termasuk tulang. Manakala kuku, ia adalah pisaunya orang-orang Habsyah”. (HR. al-Bukhari)

“Lampu hijau” yang diberikan Rasulullah saw untuk membunuh hewan jinak yang meliar (kabur atau berontak tanpa bisa dikendalikan) sebagaimana membunuh hewan liar dalam hadits tersebut, menunjukkan kebolehan membunuh hewan buruan dengan menggunakan benda yang dilemparkan, dilontarkan, atau ditembakkan, tanpa memperhitungkan bagian mana dari tubuh hewan tersebut yang terkenai (tidak harus mengenai leher dan memutus saluran makanan, pernafasan, dan darah).

Selanjutnya terkait dampak lemparan, paling tidak ada tiga kemungkinan: lemparan yang mematikan, lemparan yang melumpuhkan, dan lemparan yang melukai.

Untuk lemparan yang mematikan, harus menggunakan benda tajam/runcing, dan sebelum melempar atau menembak disyari’atkan menyebut nama Allah swt (membaca basmalah) terlebih dahulu, berdasarkan hadits:

عن عدي بن حاتم رضي الله عنه قال سألت النبي صلى الله عليه وسلم عن المعراض فقال إذا أصاب بحده فكل وإذا أصاب بعرضه فقتل فلا تأكل فإنه وقيذ قلت يا رسول الله أرسل كلبي وأسمي فأجد معه على الصيد كلبا آخر لم أسم عليه ولا أدري أيهما أخذ قال لا تأكل إنما سميت على كلبك ولم تسم على الآخر . رواه البخاري

Dari ‘Adi bin Hatim ra, berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang mi’radh (tongkat yang di ujungnya dipasang benda tajam untuk berburu), Beliau menjawab: “Apabila yang mengenai (hewan buruan) bagian yang tajam maka makanlah, tapi apabila yang mengenai tongkatnya (bukan bagian yang tajam) dan menjadikannya mati maka janganlah kamu makan, karena dia termasuk waqiydz (hewan yang mati karena pukulan benda tumpul).”, Aku berkata: Wahai Rasulullah saw, aku melepaskan anjingku dengan menyebut nama Allah swt, kemudian aku melihat ada anjing lain yang menyertainya yang aku tidak menyebut nama Allah swt atasnya, dan aku tidak tahu mana di antara dua anjing tersebut yang berhasil menangkap (hewan buruan), Beliau berkata: “Jangan kamu makan, karena kamu hanya menyebut nama Allah swt atas anjingmu saja bukan atas anjing yang lain.” (HR. al-Bukhari)

Secara sharih hadits tersebut berisi larangan memakan hewan yang mati akibat benturan benda tumpul. Lafazh al-waqidz di situ adalah apa yang dimaksud al-mauqudzah dalam ayat berikut ini.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ … [المائدة/3]

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul (benda tumpul), yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. …” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Jadi peluru senapan yang digunakan untuk berburu haruslah peluru tajam, bukan peluru tumpul, meskipun sama-sama berpotensi mematikan. Karena yang menjadi perhitungan di sini adalah sifat tajamnya peluru, bukan sifat bisa mematikan nya. Terbukti Rasulullah saw melarang memakan binatang yang mati terkena bagian tumpul dari mi’radh, dan membolehkan jika kematiannya karena terkena bagian tajamnya. Sebagai contoh, di antara peluru senapan angin pada gambar berikut ini, yang memenuhi syarat untuk menjadikan hewan buruan menjadi halal adalah peluru nomor satu dan dua dari kanan saja, sedangkan enam lainnya tidak karena berpenampang tumpul.

Untuk lemparan yang melumpuhkan, maka penggunaan peluru tumpul dibolehkan asalkan secara ghalabatu-zh-zhann (dugaan kuat) lemparan tersebut melumpuhkan. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi berikut ini.

ومن ذلك رمى الطيور الكبار بالبندق اذا كان لا يقتلها غالبا بل تدرك حية وتذكى فهو جائز

Dan diantaranya adalah melempar burung-burung besar dengan peluru (baik dari batu, tanah keras, atau besi), jika pada umumnya tidak mematikannya melainkan dia masih bisa ditemukan hidup kemudian disembelih, maka dia boleh (hukumnya mubah). (Syarah Shahih Muslim, 13/106)

Kehalalan hewan di atas karena kematiannya dengan cara disembelih (setelah sebelumnya dilumpuhkan), bukan dikarenakan tembakannya. Adapun jika peluru tumpul tersebut pada umumnya atau diduga kuat mematikan, maka lebih baik dia dihindari penggunaannya, karena hanya akan menghasilkan hewan buruan yang terhitung bangkai (haram dimakan), dan dalam penggunaannya terdapat kesia-siaan. Kecuali jika memang untuk mencari hewan buruan tidak untuk dimakan, seperti mencari burung untuk makanan kucing piaraan, untuk makanan ikan, dan semacamnya, maka tidak masalah menggunakan peluru tumpul.

Untuk jenis terakhir, yaitu lemparan yang melukai, hukumnya terlarang berdasarkan hadits Nabi saw:

عن عبد الله بن مغفل المزني قال نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن الخذف وقال إنه لا يقتل الصيد ولا ينكأ العدو وإنه يفقأ العين ويكسر السن . رواه البخاري

Dari Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani berkata: Nabi saw melarang Khadzaf, Beliau berkata: “Khadzaf itu tidak mematikan binatang buruan, tidak pula membunuh musuh, ia hanya melepaskan mata dan memecahkan gigi.” (HR. al-Bukhari)

Khadzaf adalah melempar batu kecil dengan jemari tangan. Dikatakan terlarang karena lemparan semacam ini tidak mematikan, yang ada hanya menyakiti atau menyiksa (melepaskan mata dan memecahkan gigi).

Jika suatu bentuk lemparan atau tembakan yang pada umumnya hanya melukai namun digunakan untuk mematikan hewan buruan, maka yang semacam ini bertentangan dengan perintah agar memperbagus pembunuhan tanpa boleh ada unsur penyiksaan.

عن شداد بن أوس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله كتب الإحسان على كل شيء فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح وليحد أحدكم شفرته فليرح ذبيحته . رواه مسلم

Dari Syaddad bin Aus, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kebagusan pada setiap sesuatu, apabila kalian membunuh maka perbaguslah pembunuhannya, dan apabila kalian menyembelih maka perbaguslah penyembelihan, dan hendaknya salah seorang dari kalian mempertajam senjatanya dan membuat senang binatang sembelihannya.” (HR. Muslim)

Adapun memperjualbelikan peluru, baik itu peluru tumpul maupun peluru tajam, maka boleh-boleh saja. Karena meskipun peluru tumpul, dia bisa juga digunakan untuk tujuan yang dibolehkan syara’, seperti mencari burung untuk makanan kucing piaraan atau ikan, mencari belalang. Atau bahkan untuk tujuan yang disunnahkan, seperti untuk memburu hewan-hewan yang dianjurkan oleh syara’ untuk dibunuh, misalnya cicak, tokek, tikus, dan ular. Wallaahu a’lam

Malang, 07 Jum. Tsaniyah 1433 H

Abu Shulha Azizi Ash-Shiddiqi

Disalin dari postingan sahabat KOPASEBO dan WBS Shu Xie Aziz serta Pakde Waspodo:

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

komunitas menembak

%d blogger menyukai ini: